Freedom of speech in Social Media
Berapa kali Anda pernah menekan tombol unfollow, block, atau mute di akun twitter Anda? Merasa terganggu dengan tweet akun lain? Atau berapa kali Anda pernah ikut memberikan komentar pada sebuah post di blog yang dianggap mencemaskan rakyat blogger yang lain?
Social media adalah tempat di mana kita bisa menyuarakan apapun yang kita inginkan. Mulai dari khotbah, marah-marah, atau mengungkapkan kegalauan. Semua orang/lembaga/perusahaan yang memiliki akun memiliki kebebasan untuk melakukannya. Yang kita pertanyakan sekarang ini adalah, sampai di manakan batas kebebasan itu? Menurut saya, batasan akan muncul secara sendirinya mengikuti norma dari populasi pengguna social media. Ketika ada pembatasan-pemabatasan selain normatif yang muncul di sana, akan membuat platform itu bukan lagi social media. Kondisi ini menempatkan social media – mau tak mau – dalam kondisi yang represif. Dilarang ngetweet ini, dilarang posting itu, dan lain sebagainya.
Lalu sejauh apa batasan normatif dalam populasi social media? Saya coba menggambarkannya seperti ini: bayangkan social media adalah sekumpulan orang yang sedang menikmati waktu di sebuah taman. Sekonyong-konyong seseorang, kita sebut saja A, berteriak “kebakaran”. Sebagai reaksi, orang-orang lain akan berlarian panik. Ada yang terkilir, ada yang terjatuh, bahkan ada yang tertindih. Secara instan telah terjadi kecelakan dalam populasi itu karena A dan ucapannya.
Hal yang sama terjadi pada social media. Dalam populasi ini, ide dari sekian juta akun bertarung. Ide yang muncul tidak bisa dihapus atau dihilangkan. Yang akan terjadi adalah, bila ide tersebut terlalu ekstrim atau bahkan membahayakan, maka secara otomatis akan dijauhi oleh populasinya. Hal ini terjadi sehari-hari di timeline twitter. Akun yang terus-terusan menyinggung soal SARA atau hal-hal negatif, pada akhirnya akan ‘diserang’ oleh akun lain dan dijauhi. Seperti yang saya tanyakan di awal tulisan ini, kapan tombol unfollow, block, atau mute digunakan.
Social media sangat tergantung dari apa yang bisa dan tidak bisa diterima oleh populasi. Inilah yang sesungguhnya jarang sekali terjadi dalam dunia riil, apalagi negara kita di mana dulu pernah terjadi hal-hal yang represif. Sekarang pun, walaupun dalam bentuk yang lain, tindakan-tindakan represif juga tetap ada. Jadi menurut saya, social media adalah sebuah fenomena, di mana ide, pemikiran, pembicaraan yang sederhana dapat masuk dalam sebuah ruang dan waktu yang sama. Sehingga, hanya itulah batasannya. Apapun yang dipaksakan untuk membatasi social media itu adalah salah. Apapun yang digunakan untuk pemaksaan social media itu tidak benar. Jadi silakan Anda khotbah, marah-marah, atau bercerita tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan dengan galau. Asalkan jangan teriak “kebakaran” dan menyebabkan orang lain celaka karena ucapan kita.
@AndySjarif
CEO SITTI
As posted on Market+ edisi October 2011