Freedom of speech in Social Media

Nov 23, 2011 Posted Under: Blog Sitti   Read More

Berapa kali Anda pernah menekan tombol unfollow, block, atau mute di akun twitter Anda? Merasa terganggu dengan tweet akun lain? Atau berapa kali Anda pernah ikut memberikan komentar pada sebuah post di blog yang dianggap mencemaskan rakyat blogger yang lain?

Social media adalah tempat di mana kita bisa menyuarakan apapun yang kita inginkan. Mulai dari khotbah, marah-marah, atau mengungkapkan kegalauan. Semua orang/lembaga/perusahaan yang memiliki akun memiliki kebebasan untuk melakukannya. Yang kita pertanyakan sekarang ini adalah, sampai di manakan batas kebebasan itu? Menurut saya, batasan akan muncul secara sendirinya mengikuti norma dari populasi pengguna social media. Ketika ada pembatasan-pemabatasan selain normatif yang muncul di sana, akan membuat platform itu bukan lagi social media. Kondisi ini menempatkan social media – mau tak mau – dalam kondisi yang represif. Dilarang ngetweet ini, dilarang posting itu, dan lain sebagainya.

Lalu sejauh apa batasan normatif dalam populasi social media? Saya coba menggambarkannya seperti ini: bayangkan social media adalah sekumpulan orang yang sedang menikmati waktu di sebuah taman. Sekonyong-konyong seseorang, kita sebut saja A, berteriak “kebakaran”. Sebagai reaksi, orang-orang lain akan berlarian panik. Ada yang terkilir, ada yang terjatuh, bahkan ada yang tertindih. Secara instan telah terjadi kecelakan dalam populasi itu karena A dan ucapannya.

Hal yang sama terjadi pada social media. Dalam populasi ini, ide dari sekian juta akun bertarung. Ide yang muncul tidak bisa dihapus atau dihilangkan. Yang akan terjadi adalah, bila ide tersebut terlalu ekstrim atau bahkan membahayakan, maka secara otomatis akan dijauhi oleh populasinya. Hal ini terjadi sehari-hari di timeline twitter. Akun yang terus-terusan menyinggung soal SARA atau hal-hal negatif, pada akhirnya akan ‘diserang’ oleh akun lain dan dijauhi. Seperti yang saya tanyakan di awal tulisan ini, kapan tombol unfollow, block, atau mute digunakan.

Social media sangat tergantung dari apa yang bisa dan tidak bisa diterima oleh populasi. Inilah yang sesungguhnya jarang sekali terjadi dalam dunia riil, apalagi negara kita di mana dulu pernah terjadi hal-hal yang represif. Sekarang pun, walaupun dalam bentuk yang lain, tindakan-tindakan represif juga tetap ada. Jadi menurut saya, social media adalah sebuah fenomena, di mana ide, pemikiran, pembicaraan yang sederhana dapat masuk dalam sebuah ruang dan waktu yang sama. Sehingga, hanya itulah batasannya. Apapun yang dipaksakan untuk membatasi social media itu adalah salah. Apapun yang digunakan untuk pemaksaan social media itu tidak benar. Jadi silakan Anda khotbah, marah-marah, atau bercerita tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan dengan galau. Asalkan jangan teriak “kebakaran” dan menyebabkan orang lain celaka karena ucapan kita.

@AndySjarif
CEO SITTI

As posted on Market+ edisi October 2011

Penggalangan Dana Online: Untuk Dunia yang Lebih Baik.

Oct 13, 2011 Posted Under: Blog Sitti   Read More

Seberapa dahsyatkah kekuatan penggalangan dana secara online? Anda mungkin sudah pernah mendengar kisah kesuksesan kampanye Presiden Barack Obama di tahun 2008 lalu. Selama kampanye, Obama mendapat donasi sebesar hampir 750 juta dollar dari hampir 4 juta donatur individual. Melalui social media, kampanye tersebut menghasilkan (di antaranya) 5 juta “teman” di lebih dari 15 situs jejaring sosial, 8,5 juta pengunjung setiap bulan di MyBarackObama.com, dan 35.000 grup sukarelawan yang mengadakan 200.000 acara offline! Inilah bukti kedahsyatan jaringan internet bila dimanfaatkan secara optimal. Beranikah Anda mencobanya?

Sekarang ini, Indonesia memiliki sekitar 36 juta pengguna Facebook. Angka ini menandakan, yayasan atau lembaga nirlaba punya kesempatan yang besar untuk masuk ke dalam populasi online. Bila melihat ke belakang, sepuluh tahun yang lalu, kesempatan seperti ini belum ada. Oleh karena itu, sepertinya melakuan kampanye sosial, maupun melakukan penggalangan dana secara online harus mulai dipikirkan secara serius oleh perusahaan nirlaba.

Mengapa harus online? Kegiatan apapun yang dilakukan dalam jaringan internet akan relatif lebih mudah. Tidak perlu lagi ada keruwetan untuk menyelenggarakan acara, yang seringnya terbatas hanya pada sejumlah orang tertentu, atau bahkan kerepotan untuk kegiatan kampanye rumah ke rumah. Dalam jangka panjang, tidak diperlukan terlalu banyak usaha dan penghabisan dana. Anggaran pun menjadi efektif, tanpa pengeluaran untuk percetakan atau biaya pos. Kita bahkan bisa menggapai lebih banyak orang dari seluruh bagian dunia yang mungkin saja bersedia untuk memberikan donasi lebih banyak. Secara keseluruhan, kampanye secara online dapat menciptakan kepedulian yang jauh lebih luas dan menghasilkan kemampuan penggalangan dana yang jauh lebih besar. Inilah keperkasaan jaringan online yang bisa kita manfaatkan secara optimal.

Bayangkan dampak yang dapat dihasilkan dari kemampuan jaringan online untuk melipatgandakan tenaga dan mengurangi inefisiensi. Ia dapat menghapuskan batasan-batasan geografis dan waktu, memungkinkan pengukuran hasil, menciptakan informasi berharga akan apa yang berhasil dan tidak, dan secara signifikan meningkatkan pendapatan. Kesimpulannya: efektif dan efisien.

Jadi, bila dampak ini bisa membuat lebih banyak orang terbantu dalam waktu yang lebih singkat dan mendukung tercapainya target kampanye, mengapa tidak kita gunakan untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik dengan segera?

@AndySjarif
CEO SITTI

As posted on Market+ edisi Juli 2011

Bekal Teknologi Untuk si Buah Hati

Sep 6, 2011 Posted Under: Blog Sitti   Read More

(Teknologi bukan sekedar gadget)

Ini terjadi di suatu hari di rumah saya.

Saya lagi menemani Rania, anak perempuan saya yang berusia 3 tahun main iPad (sejak beli iPad, barang itu lebih sering ada di tangan Rania dibanding di tangan saya). Saya lihat dia lagi main game-game yang buat saya waktu kecil dulu membosankan: angka-angka, permainan warna, dan sejenisnya. Tapi Rania tampak menikmatinya.

Kami lalu memainkan game yang lain, ketika kami menemukan satu adegan di mana karakternya harus melompat. Saya coba tap, lalu tap lagi, dan lagi, tapi nggak bisa. Akhirnya saya menyerah dan Rania membantu saya. Saya, CEO dari SITTI, sebuah perusahaan digital start-up di Jakarta, diajarin main game di iPad sama anak saya. Kebangetan! (iya, saya maksudnya)

Saya membayangkan 17 tahun dari sekarang. Rania pasti sudah mencapai level kenyamanan menggunakan teknologi karena sudah melakukannya selama 20 tahun. Bayangkan bermacam-macam manfaat yang akan dia rasakan, berbagai hal yang bisa dia dapatkan, hanya dengan kebiasaannya berinteraksi dengan internet dan teknologi.

Sebagai keluarga, saya pikir sudah saatnya kita melihat teknologi lebih dari sekedar gadget. Kenapa nggak kita mulai melihatnya sebagai sebuah alat untuk mencapai kehidupan anak kita yang lebih baik?
Teknologi memungkinkan kita untuk bisa ngapain aja. It makes the world limitless.

Yuk pastikan kita menyiapkan aplikasi edukasi di gadget kita, selain hanya aplikasi permainan.

Yuk belikan anak kita laptop ukuran kecil dibanding sekedar membelikan video games.

Mari ajari keluarga kita untuk bisa produktif saat menggunakan teknologi.

Lalu saya kembali membayangkan tahun 2031: Rania Kancana Tdya Dalima Sjarif, 23 tahun, menggunakan advanced technology untuk mengubah air kotor menjadi air bersih siap minum. Pasti hari itu saya akan teringat sama Rania yang lagi mainin iPad saya, hari ini.

As posted on Market+ edisi 20 | Juli 2011

Lihat KIRI Lihat KANAN

May 30, 2011 Posted Under: Blog Sitti   Read More

Seumur hidup saya sebagai orang Indonesia, saya selalu mendengar bahwa jutaan anak bangsa ini masih tidak bisa mendapatkan pendidikan yang cukup. Bahkan saya sempat mendengar bahwa ada 11.7 juta anak yang putus pendidikan di tahun 2009.

Saya sedih tapi nggak punya solusi. Saya prihatin tapi nggak bisa berbuat apa-apa. Tapi saya tetap mau bertanya…

Kalau artikel seperti ini ditulis, biasanya kalimat berikut yang saya tulis dimulai dengan “Pemerintah seharusnya bla blab bla…”. Well, I am not going to do that. Boleh sih saya dipanggil skeptis, tapi pikiran saya hanya dari satu sisi, tulisan saya ini tidak mungkin membuat pemerintah kita melakukan apapun. I mean… “Siapa situuu?” kata orang pemerintah yang kemungkinan anak gaul.

Saya mau lebih pragmatis. Saya mau ngeyel dan bertanya kalau di negara yang kita cintai ini bisa ada 30 juta pengguna Facebook, kenapa sih kita nggak bisa kasih adik-adik kita yang jumlahnya hanya 11.7 juta itu untuk mendapatkan pendidikan mereka di Internet?

Kalau penetrasi Twitter di Indonesia yang mencapai 20.8% ini adalah salah satu yang tertinggi di dunia, kenapa sih kita nggak bisa kasih solusi untuk anak-anak putus pendidikan dengan melakukannya lewat Internet?

Kalau 2.7 miliar kali orang Indonesia bisa datang dan mengetik sesuatu di Google.com, kenapa ya kita nggak bisa membuat suatu aktifitas untuk adik-adik kita ini?

Saya tidak memberikan solusi karena saya bukan politisi, educator apalagi orang pemerintah. Saya hanyalah seseorang yang percaya bahwa dengan perkembangan internet sebesar 1150% di Indonesia, kita pasti bisa melakukan sesuatu untuk adik-adik kita yang tidak dapat menyelesaikan pendidikan mereka di bangku SMA bahkan SMP.

Saya percaya bahwa dengan internet, banyak sekali sektor yang dapat ditingkatkan termasuk pendidikan. Sekolah online adalah contoh yang paling mudah.

Sekarang pertanyaannya, maukah kita berpindah dari pendidikan konvensional ke sekolah digital? Apakah kita mampu memiliki standar pendidikan online yang sama bagusnya dengan pendidikan konvensional? Apakah kita ingin bangsa kita terhapus dari kebodohan dan kemiskinan? Tentu saja.

Pilihannya ada di tangan kita. It’s about the choices we make.

@AndySjarif
CEO SITTI

As posted on Market+ edisi 18 | Mei 2011

RA Kartini 2.0

May 30, 2011 Posted Under: Blog Sitti   Read More

Sarah Lacy bukan nama yang dikenal orang banyak, kecuali jika Anda bekerja di dunia teknologi seperti saya. Sarah Lacy adalah seorang wanita Amerika yang bisa dilbilang sangat powerful di dunia teknologi. Dia adalah Editor At Large dari sebuah portal di Silicon Valley yang bernama Techcrunch.com. Techcrunch itu sebuah portal yang menjadi kiblat orang2 teknologi di dunia karena berita dan tulisan-tulisannya yang mendalam. Orang-orang seperti Steve Jobs, CEO dari Google, Yahoo dan para venture capitalist di sana, semua baca Techcrunch.

Saya kenal sama Sarah karena dia pernah juga menulis tentang SITTI (kalau mau baca artikelnya, Google aja “andy sjarif techcrunch”). Minggu lalu dia ada di Indonesia dan kita berjanji untuk ketemuan. Saya agak kaget karena dia ternyata sedang hamil 4 bulan. Kehadirannya di sini adalah karena ia diminta berbicara di 7 kota di Indonesia tentang teknologi dan bisnis. Keliling 7 kota di Indonesia dalam kondisi hamil 4 bulan datang jauh dari Amerika, wow, saya sangat kagum dengan wanita satu ini. Ketika sedang makan malam sama ibu hamil satu ini (kita makan kepiting saos pedas! Pernah liat bule makan kepiting saos pedas nggak? Scary! Hahaha….) saya menyadari satu hal: “technology is the great equalizer between gender”.

Di jaman purbakala kayaknya agak susah untuk wanita bersaing dengan laki-laki dalam hal berburu dan mencari makan, arena itulah mungkin para wanita di rumah mempersiapkan makan sedangkan laki-laki berburu. Namun sekarang dengan teknologi, kemampuan laki-laki tidak bisa dikatakan lebih lagi karena semuanya bisa dilakukan tanpa otot. Bayangkan seorang Sarah Lacy yang karena memiliki wawasan di bidang tekologi, bisa menjadi penulis buku dan editor portal teknologi terkemuka sehingga sang suami bisa kuliah lagi dan Sarah menjadi pencari nafkah keluarga mereka.

Sarah menulis, di-upload di Techcrunch.com, dan jutaan orang membaca tulisannya. Saya kasih contoh lokal. Inge, istri teman saya, selama 13 tahun bekerja sebagai seorang karyawati. Suatu hari ia memutuskan untuk berhenti bekerja. Sekarang, karena iseng, ia jualan barang-barang bekas di Facebook. Tiga bulan pertama penghasilannya sudah sama dengan gaji dia selama satu tahun. Impressive! Inge menggunakan teknologi sebagai fondasi untuk menghasilkan pendapatan yang lebih dari pekerjaaan dia sebelumnya. Inge juga seorang wanita.

Dunia teknologi membuka pintu dan menghancurkan “glass ceiling” yang sebeumnya terpasang ketat untuk wanita. It’s the great equalizer between gender. Lewat tulisan ini saya ingin memberikan salut saya ke wanita-wanita seperti Sarah Lacy, Inge dan mereka yang sudah menghancurkan glass ceiling demi kesetaraan gender. Saya memberi hormat saya kepada mereka yang saya sebut sebagai para RA Kartini 2.0.

Selamat Hari Kartini!

@AndySjarif
CEO SITTI

As posted on www.marketplus.co.id

http://www.marketplus.co.id/2011/04/27/ra-kartini-20/

Yuk Punya Properti di Web!

Apr 6, 2011 Posted Under: Blog Sitti   Read More

Teman dekat saya, Anton, adalah seorang juragan properti di Jakarta. Dia pernah bilang ke saya bahwa kalau kita lempar biji jagung ke langit, kemungkinan akan jatuh di tanah, rumah, apartemen atau gedung milik dia.

Nah saya tidak berani bicara soal properti karena tidak seperti Anton, properti milik saya hanya satu Kijang Innova hitam yang kemarin ditabrak pak bajaj yang lagi ngantuk. Tapi saya di sini memberanikan diri untuk berbicara tentang properti yang tidak bisa disentuh dan tidak ada surat hak miliknya. Dalam bahasa Inggris, yang saya bicarakan ini biasa disebut web property.

Setiap situs itu ada halamannya. Ambil saja contoh si Solihin, OB di kantor SITTI. Dia punya situs mempromosikan dirinya sebagai cowok metropolitan yang bekerja di perusahaan teknologi di Jakarta. Gadis-gadis di kampung Solihin sering “datang” dan masuk ke situs Solihin ini. Pertama satu atau dua orang. Lama kelamaan 217 gadis single di kampung Solihin mulai secara rutin mendatangi situs Solihin ini.

217 gadis datang dua kali sehari. Artinya gadis-gadis single yang banyak dari pesantren ini memberikan 2 pageview seharinya. Pageview, adalah sebuah terminologi yang mendeskripsikan berapa kali suatu halaman situs dibaca (baca:view) oleh mata orang.Dengan kata lain, situs Solihin si anak metropolitan mampu mendatangkan 434 pageview/hari (217 x 2). Coba bayangkan dalam setahun, situs si Solihin ini akan dapat mendatangkan pageview sebanyak 158.410 (434 x 365 hari)!

Dengan begitu, waktu Solihin mudik, dia bisa jualan pageview ini ke warteg Ibu Jurhada supaya mulai beriklan di situs “Solihin Anak Metropolitan” karena dilihat 158.000 kali dalam setahun oleh gadis-gadis kampungnya.

Ini adalah esensi web property. Tidak bisa disentuh atau diukur secara meter persegi tapi tetap ada harganya.

Punya blog? Kalau belum, buatlah blog. Buatlah situs seperti Solihin. Karena setiap halaman situs atau blog adalah web property yang bisa menghasilkan uang. Kalau malas jualan iklan sendiri, di sinilah SITTI bisa membantu. Datang ke sitti.co.id, download skrip SITTI lalu pasang di blog Anda. Dengan begini, halaman Anda sudah termasuk secara otomatis menjadi bagian dari pageview yang dijual oleh tim SITTI lalu penghasilannya mayoritas untuk Anda. Dengan demikian Anda tidak harus menjual halaman Anda satu persatu karena berdasarkan data bulan September 2010 hingga Januari 2011, total pageview SITTI sudah mencapai 272 juta. Setiap halaman akan mendapatkan pemasukan berdasarkan konteksnya masing-masing.

Dengan pageview sebesar itu, siapa yang tidak tergiur? Anton si juragan properti pun akan ngiler untuk beriklan di SITTI. Sedangkan Solihin, puas dengan peforma situs “Solihin Anak Metropolitan”, bukan tidak mungkin membuat situs-situs lain seperti blog “Kisah Solihin OB Juara” atau situs “Makan Siang Murah Meriah” untuk menggapai cita-citanya menjadi koki terkenal. Sehingga kali lain saya lempar biji jagung ke langit web, kemungkinan akan jatuh ke salah satu properti milik Solihin.

Ah Solihin meuni keren pisan!

@AndySjarif
CEO SITTI

As posted on www.marketplus.co.id, click http://bit.ly/epeKYP

Nubruk Sampai Pecah

Apr 6, 2011 Posted Under: Blog Sitti   Read More

Kalau berdasarkan thesaurus bahasa Inggris, kata-kata breakthrough memiliki definisi sebagai berikut: “Improvement, progress in development” Dengan kata lain, breakthrough adalah sesuatu perkembangan positif atau progres yang diharapkan. Terlalu akademis menurut saya. Bikin ngantuk.

Saya lebih suka versinya Solihin, si OB di kantor saya. Dia bilang bahwa break itu pecah dan through itu “nubruk”. Jadi untuk dia breakthrough artinya menubruk sesuatu sampai pecah. Saya sangat suka definisinya Solihin. Because of its utter simpli city. Selain itu menubruk sampai pecah bisa diartikan dalam banyak hal tanpa basa basi akademis seperti “perkembangan atau progress yang diharapkan”.

Dalam berkarya, sesuatu yang memiliki karakter dan keunikan sendiri hanya bisa diberikan ke mereka yang berhasil melampau batas-batas normatif. Kalau tidak, apapun itu, hanya sesuatu yang sering kita bilang masuk dalam kategori “biasa banget”.

Di dunia teknologi, nubruk sampai pecah dilakukan oleh Steve Jobs dan Apple. Sebelum mereka buat iPad, kita selalu bilang bahwa komputer harus ada tombol-tombol huruf seperti mesin ketik. Apple bertanya, “Kenapa harus begitu?”. Dan mereka membuat iPad dengan design yang sangat simple tetapi sangat user friendly dan very very cool. The rest is history karena Apple nubruk sampai pecah semua batas-batas normatif sebuah komputer.

Kita lihat Google dengan sistim advertising mereka yang disebut AdWords. Di jaman di mana semua perusahaan membeli sistem iklan banner dangan gambar – gambar menarik di Internet, Google bilang, “Kenapa nggak text aja ya?”. Sekarang iklan text Google yang awalnya disebut membosankan itu menjadi benchmark iklan internet sampai menguasai hampir 60% dari share advertising di internet. Sekali lagi, Google menubruk sampai pecah batas – batas normatif iklan di Internet.

SITTI adalah perusahaan start up yang saya rintis sejak setahun yang lalu. SITTI juga dimulai dengan bertanya, “Kalau perkembangan populasi Internet di Indonesia adalah salah satu yang terbesar di dunia, kenapa ya pemain bisnis internet terbesar di Indonesia tidak ada satu juga pemain lokal?” Gak percaya? Coba lihat Top 5 situs yang paling sering diakses sama orang Indonesia. Facebook, Google.com, Google.co.id, Blogger, Yahoo. Pemain lokalnya ke mana ya?

Saya suka Facebook. Saya cinta Google. Istri saya punya blog pake Blogger. Email saya pakai Yahoo. Saya nggak peduli mereka pake merah putih atau tidak. Saya peduli mereka memberikan saya servis yang saya mau.

Saya adalah Anda semua. Di Internet, saya nggak pake merah putih atau baju merah dengan garuda di dadaku. Saya pakai satu topi; my own self interest. Jadi saya sebagai bagian dari SITTI bertanya lagi: Pemain lokalnya ke mana ya?

Di sinilah saya akhiri artikel ini. Karena SITTI baru mulai bertanya. Jadi kita mau nubruk dan mau sampai pecah. Kita mau menjadi breakthrough. Tapi sampai saat itu terjadi, saya hanya ingin bertanya dan berharap bahwa banyak pemain digital lainnya yang juga bertanya. Siapa tahu dengan bertanya seperti Apple dan Google, beberapa tahun lagi kita bisa bilang bahwa di dunia digital kita sukses jadi tuan rumah di negara sendiri.

Gubrak! *kan begitu bunyinya nubruk.

@AndySjarif
CEO SITTI

As posted on www.marketplus.co.id, click http://bit.ly/gLYZYa

#ketemuSITTI: To blog or not to blog

Nov 29, 2010 Posted Under: #ketemuSITTI   Read More

“To blog or not to blog?”

Itu adalah tema #ketemuSITTI yang diadakan pada tanggal 11 November lalu di Anomali, Setiabudi One, Jakarta. Menghadirkan Bapak Blog Indonesia, Enda Nasution, di acara ini dibahas tuntas pentingnya ngeblog sebagai sarana menguangkan passion kita. Enda mengemukakan bahwa ngeblog jaman sekarang lebih seru dibanding beberapa tahun lalu. Lewat ngeblog kita bisa menuangkan isi pikiran, ajang bertukar informasi dan bahkan bisa mendapat penghasilan tambahan. SITTI sebagai platform iklan teks kontekstual bisa membantu blogger dalam hal ini.

Di kesempatan yang sama, Sekar Sosronegoro dari SITTI juga menjelaskan cara kerja mesin SITTI, bagaimana aplikasinya di dalam blog dan bagaimana cara menjadi publisher SITTI.

Sekar Sosronegoro (SITTI) menjelaskan cara mudah menguangkan blog

Nggak cuma itu, #ketemuSITTI juga jadi ajang temu langsung bagi para blogger dan Twitterati.

Tertarik ikutan nongkrong bareng? Nantikan #ketemuSITTI berikutnya!

SITTI, Techcrunch dan Mpek Mpek Palembang

Nov 16, 2010 Posted Under: Blog Sitti   Read More

Sabtu pagi jam 7, BB saya berbunyi keras. Teman lama saya di Amerika yang sudah 4 tahun nggak pernah berhubungan mengirim email. Pesannya simple dan pendek, “Read your name on Techcrunch. Very cool.”

Saya lompat dari tempat tidur dan membuka laptop saya. Di situ, di depan mata saya, ada artikel di Techcrunch tentang SITTI yang ditulis oleh Sarah Lacy. Terus terang, reaksi pertama saya adalah “shock abiis”. Saya memang cukup yakin akan ada tulisan tentang SITTI. Tapi saya berpikir bahwa SITTI akan ditulis sepanjang satu paragraf bersama perusahaan teknologi lainnya. Jelas saya tidak mengira satu artikel hanya tentang SITTi saja akan ada di Techcrunch.

I mean… Techcrunch jo! Bukan blog pribadinya si Jono.

“Tenang. Tenang. Nafas. Pelan-pelan,” Itu yang saya bilang ke diri saya.

Lalu saya bertanya pada diri sendiri, “Apa sih artinya ini?”. Selain nama saya sekarang jadi lebih terindex oleh Google, apakah artikel ini membuat SITTI menjadi lebih dari hari Jumat sebelum artikel ini keluar?

Fakta. SITTI adalah start up yang belum menghasilkan uang kecuali Rp 630 ribu dari penjualan teh botol si Udin.

Fakta. SITTI belum menerima komitmen pengiklan walaupun sudah melakukan iklan testing dengan lebih dari 600 brands.

Fakta. Saya masih gendut.

Fakta. SITTI boleh saja menantang Google. Tapi realitanya kita bukan apa-apa kalau di bandingkan dengan the mighty Google,inc.

Intinya bukan saya tidak merasa berterimakasih dengan tampilnya SITTI di Techcrunch. Saya sangat berterima kasih dan merasa bersyukur untuk komunitas teknologi negara ini yang mendapat atensi dunia. Walaupun baru dalam satu artikel. Saya sangat bersyukur.

Tapi secara pragmatis, saya harus melihat dari sisi lain. SITTI sebentar lagi akan berkompetisi dengan pemain terbesar dunia. Pemain yang belum pernah terkalahkan oleh siapapun dalam dunia “contextual advertising”.

Kami, Luke-SITTI-Skywalker sebentar lagi akan berhadapan dengan Yoda-Google yang bisa terbang sambil berantem. Hiii serem.

Maka dari itu. Artikel ini besar untuk kami di SITTI. Artikel ini besar untuk teman-teman di dunia teknolgi di Indonesia. But talk is cheap.

Sekarang waktunya untuk kami di SITTI bekerja dan berkompetisi dengan sang Mahaguru kami, Mbah Google,inc.. Untuk hal ini, kami tidak mungkin bisa menang kalau hanya kami sendiri.

Di blog posting ini. Sekarang. Saya mencancapkan bendera merah putih tidak untuk berperang. Tapi untu meminta pertolongan. Kami di SITTI perlu bantuan.

Kalau kamu blogger atau pemilik situs: Pasanglah SITTI di blog dan situsmu. Datang. Daftar dan pasang SITTI dari belajarsitti.com. Bukan karena kami bawa bendera merah putih, tapi karena kamu mau bikin uang. Simple. Jadikan SITTI sebuah alat untuk mandatangkan pemasukan tambahan. Kalau ada sejuta yang pasang SITTI di blog masing-masing, kita bisa berteriak bahwa ekonomi internet di negara ini bukan milik Google,inc. Tapi milik kita semua.

Para pengiklan, besar dan kecil: Beriklanlah di internet. 45 juta pengguna Internet Indonesia menunggu Anda semua. Mau beriklan pakai banner, ad network atau pasang di sittibelajar.com, silahkan.
Jumlah pengguna Internet sudah berkembang sebesar 1150% 9 tahun terakhir.
Kami adalah sebuah ledakan. Ledakan populasi yang menunggu pesan-pesan iklan Anda yang kreatif, baik, buruk dan membosankan (kan ada iklan yang bikin ngantuk).

Sekali lagi, jangan beriklan di SITTI karena kami berwarna merah putih. Lakukan karena mesin SITTI yang sudah belajar dari 600 juta halaman situs Indonesia bisa membantu bisnis anda. Besar, kecil, UKM, sampai warung bu Neni di Mampang Prapatan.

Artikel Techcrunch tentang SITTI adalah sebuah awal. Bukan akhir. Kami baru mau mulai dan kami perlu bantuan semua pihak.

Tolooooong.
Bantu kami tanpa rasa nasionalisme. Bantu dengan rasa narsisme. Pikirkan diri sendiri secara kolektif. Karena mungkin dengan berpikir narsis, bendera merah putih tidak akan berkibar di sini, tapi di depan kantor Google di Moutain View. Lengkap dengan lagu “Tak Gendong”-nya Mbah Surip.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada Google, saya tidak mau mengakhiri blog post ini dengan menyebut nama mereka lagi. Ntar dibilang mancrush lagi sama Techcrunch.

Saya akan mengakhiri posting ini dengan hal lain. Mpek Mpek Palembang.

Kenapa Mpek Mpek? Well, saya suka banget Mpek Mpek. Saya selalu niat untuk berdiet. Tapi kalau ada Mpek Mpek dan teh botol, niat itu bablas.

Sekarang, sudah waktunya SITTI untuk bekerja. Bukan hanya berniat seperti saya dan diet saya.

@AndySjarif
Founder SITTI
Mpek Mpek fans club